Voucher Paket Wisata yang DIjual di e-kuta.com selain dgn BOOKING ONLINE, bisa dibeli di outlet SPESIAL SAMBAL mister lele (MLSS) , klik di sini
Powered by MaxBlogPress  

Depeha

By Kenzie Kayana , Tari Barong Batubulan , Tanjung Benoa Watersport dan Bali Rafting Murah

PROMO MURAH AGUSTUS - SEPTEMBER - OKTOBER 2014VOUCHER DISKON (HARGA E-KUTA.COM)
Watersport Tanjung Benoa Rp. 200.000 85.000 /orang
Ayung Rafting Rp. 450.000 260.000 /orang
Telaga Waja RaftingRp.450.000 270.000/orang
Quicksilver CruiseRp. 850.000 645.000 /orang
Bounty CruiseRp.860.000 610.000 /orang
Bali Hai CruisesRp.920.000 830.000 /orang
Sunset Dinner Cruise (romantic dinner) Rp.600.000 420.000 /orang
Seawalker Tanjung BenoaRp.650.000 405.000 /orang
Marine Walk Nusa Lembongan Rp.750.000 615.000 /orang
Sewa Mobil Avanza + Driver (tanpa BBM)Rp.300.000 275.000 /10 jam
Scuba DivingRp.500.000 300.000 /orang
Odyssey SubmarineRp.800.000 545.000 /orang
Tour Pulau PenyuRp.650.000 350.000 /10 orang
Seafood Pantai JimbaranRp.275.000 135.000 /paket
Bali Bird ParkRp.120.000 85.000 / orang
Naik Unta (Camel Safari)Rp.400.000 280.000 /orang
Naik Gajah (Elephant Safari)Rp.700.000 560.000 / orang
Tiket tari Kecak UluwatuRp.120.000 90.000 / orang
Tiket Tari Barong BatubulanRp.120.000 70.000 / orang
Tiket Perahu Dolphin Lovina (Lumba-Lumba)Rp.200.000 100.000 / orang
Paket Spa BaliRp.400.000 220.000 / orang
Paket Tour Seafood Jimbaran KecakRp.600.000 495.000 / orang
Fast Boat ke LombokRp.520.000 420.000 / orang
BOOK NOW >>>BOOK NOW >>>

Share

Depeha adalah salah satu nama desa di kecamatan Kubutambahan, Buleleng.

Jika Anda memiliki informasi unik mengenai desa Depeha ini, silakan berbagi informasi di kolom komentar.

  • e kuta com desa depeha
    Mengapa memilih PT. BALI RC BERJAYA / Ekuta Holiday sebagai partner liburan di Bali?
    - Berpengalaman. Tim PT BALI RC BERJAYA / Ekuta Holiday telah berpengalaman melayani ribuan customer baik dari wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara
    - Transaksi aman. Semua pembayaran ke rekening e-kuta.com via bank transfer, kartu kredit (Paypal) sangat aman. Semua menggunakan akun perusahaan (bukan pribadi)
    - Pelayanan ramah dan professional
    - Harga kompetitif. Selain harga lebih murah, tetapi kami lebih mengutamakan kualitas pelayanan. Kami selalu memilih provider seperti rafting yang memiliki fasilitas yang bagus, pelayanan ok. Percayalah, harga selalu berbanding lurus dengan pelayanan.
    - Terlengkap. Ekuta melayani pembelian voucher sewa mobil hingga tiket pertunjukan seni Bali seperti tari Kecak atau Barong
    - Alternatif pembayaran banyak.Selain pembayaran via bank transfer atau paypal, bisa juga melalui western union, kantor pos atau membayar langsung di semua outlet Spesial Sambal Mister Lele (rumah makan favorit di Bali). Info outlet di www.misterlele.com atau www.spesialsambal.net
    - Pelayanan supir / driver on time. Khusus pelayanan sewa mobil Bali di e-kuta.com, pelayanan supir selain ramah dan profesional, juga mengedepankan on time atau tepat waktu.
    - Sewa Mobil Mewah di Bali. Kami juga melayani client-client VIP seperti dari pimpinan perusahaan, pejabat dll dengan berbagai pilihan kendaraan mewah seperti Toyota Fortuner, Toyota Alphard, camry, BMW x5, Smart for two, Mini cooper, Mercy, Rubicon, Hummer dll baik untuk keperluan liburan, bisnis, wedding / prewedding maupun konferensi.

    Tags: , , Kategori Informasi




    20 Komentar untuk artikel “Depeha”

    1. komang berkomentar :

      desa depeha merupakan salah satu desa tua di bali.dulu desa depeha merupakan pusat sebuah kerajaan yang ibu kotanya bernama indrapura.hal ini berdasarkan prasasti yang ada pada pura pucak bukit sinunggal.selain itu ada tradisi unik “nampah batu”jika ada upacara odalan di pura puseh.selain “nampah batu”ada juga tradisi lain yaitu menek medesa yang khusus dilakukan oleh krama desa depeha yang batu menikah.

    2. komang berkomentar :

      selain tradisi,juga ada pura pura yang tergolong unik yang diempon oleh desa adat depeha,diantaranya: pura tirtamaji yang secara administratif berada diwilayah desa adat tunjung. pura ini merupakan tempat nunas tirta bagi krama desa adat depeha yang sedang melaksanakan upacara baik ala maupun ayu.pura tirta maji merupakan “basisnya”tirta untuk krama desa adat depeha.piodalan dipura ini jatuh pada purnama sasih kaulu. selain pura tirta maji yang ada diwilayah desa adat tunjung yang hanya diempon oleh krama desa adat depeha juga ada pura banua dan pura sang kumpi.piodalan dipura sang kumpi dan banua jatuh pada purnama sasih ke-enem.
      pura sang jro merupakan pura yang disungsung oleh krama desa adat depeha yang secara geografis berada di desa bukti.pada pura ini ditemukan peninggalan arca dari batu wujud dewa ganesha.piodalan dipura ini jatuh pada purnama sasih kesanga.

    3. komang berkomentar :

      kesenian juga tumbuh dengan subur di desa depeha diantaranya joged, genjek, gambuh dan sebagainya.gambuh di desa depeha berbeda dengan gambuh yang ada di desa lain.gambuh di desa depeha menggunakan pengiring gong semara pegulingan.

    4. l Nyoman Suparsana, SH.H berkomentar :

      Desa Depeha dengan kondisi geografis yang sangat strategis yaitu berada sekitar 450M diatas permukaan laut sangatlah cocok untuk daerah pertanian yang mana hampir 90% adalah petani mangga. Desa depeha terkenal dengan kwalitas mangga yang super terutama pada tahun 2004 kebawah, sangat disayangkan kwalitas dan kwantitas hasil pertanian mangga kian hari kian memburuk.
      Dalam kehidupan keagamaan 99,7% penduduk Desa Depeha menganut Agama Hindu. Secara kehidupan adat Desa Depeha adalah salah satu desa tua atau boleh dikatakan sebagai Bali Mula, hal ini terbukti dengan adanya sistem organisasi adat desa yg sangat eksis terpelihara dan dilestarikan hingga kini yang disebut dengan Susunan Anggota Desa Dua Likur yang maksudnya adalah nggota terdiri dari 21 orang tetua desaDesa Negak.
      Desa Depeha juga disebut Desa Tua dimana hal ini juga didukung oleh bukti adanya 4 pura yang disungsung oleh warga Depeha namun berlokasi di luar wilayah adat maupun administratif desa Depeha yaitu Pura Sang Jero di desa Bukti(arah utara), Pura Bukit Sinunggal didesa Tajun(arah selatan), Pura Sang Kumpi/Banua di desa Tunjung(arah timur) dan Pura Yeh Pande di Desa Kelampuak(arh barat)

    5. ekutablog berkomentar :

      Suksma atas informasinya..

    6. ketut sumberjaya berkomentar :

      bagus .. koment nya… saya juga pernah membantu warga seganti untuk membangun pelingih arca batu wujud rangda. sekarang di sebut pura Ratu Lingir. tepat nya di rumah bapak sumawan – br seganti.

      karena sebelum saya membantu bapak ini untuk mebuat kan pelingggih saya mendapat pewisik dari beliau yang ber istana di pura ini. akhir nya pada thaun 2008 saya memulai memugar dan membuatkan pelinggih baru.

      semoga ada manfaat nya bagi warga desa depeha.

      salam
      Ketut sumberjaya
      081239542271

    7. boby dita berkomentar :

      Desa Depeha adalah desa kelahiran q,yang dimana sedih senang ku lewati disana tampa kebencian yang tertinggal,desa yang cinta damai tampa permasalahan.

    8. Nyoman Suparsana,SH.H berkomentar :

      Sungguh hal yang sangat ironis,, desa depeha kini semakin terpuruk dalam hal hasil pertanian,,Mangga yang menjadi komodity utama semakin tahun semakin menurun. Semoga keadaan ini menjadi perhatian aparat pemerintah dengan segera memeberi input terbaik guna memulihkan sektor pertanian termasuk dalam hal infrastuktur terutama jalan yg sudah lebih dari 65% ada dalam kondisi rusak.
      Astungkara dengan kerja keras dan bakti seluruh warga desa depehasebuah keniscayaan untuk menjadi lebih baik bisa tercapai.

    9. edy putra berkomentar :

      depeha adalah desa yang sangat indah, orang-orangnya juga baik dan ramah, untuk derahnya juga bagus, bagian paling utara meruapakan bagian perbatasan Depeha dengan Air sanih, dimana tempan ini sangat bagus jika dibangun komplek villa, karena pemandangan disini tidak kalah dengan yang ada di jimbaran, pokoknya sangat bagus deh, saya jamin ga akan nyesel tinggal disini.
      untuk di bagian tengah desa struktur tanahnya sangat bagus, untuk pertanian sangat cocok, tidak akan mengecewakan jika berkebun di sini.
      bagian selatan adalah pusat desa depehanya, jadi disini bisa di bilang central depeha dimana di tempat ini banyak terdapat pura rumah dan pasar, pokoknya semua tempat di desa depeha ini sangat menarik :) :) :)
      edyproperti@gmail.com
      property agent in bali

    10. budi puspa k, berkomentar :

      Banjar pengubugan adalah salah satu dari 6 banjar dinas di desa depeha dimana memiliki 3 wilayah yaitu SINGA ( sbelah selatan) adalah tmpat prumahan dan berdagang yg bisa kita jumpai disisi kiri kanan jalan pnghubung desa bulian – depeha, dan sebagian lagi adalah kebun,siange juga memiliki bukit sianga yg indah dan sungai kecil yg melintas di sebelah barat yg juga merupakan pembatas desa antara desa depeha dan kelampuak( tamblang)
      PENGUBUGAN ( tengah yg juga pusat pemerintahan bnjar) adalah perumahan dan berdiri sebuah SD N 1 Depeha ,penduduk disini adalah petani mangga dan sebagian lagi bekerja ke luar kota seperti Gianyar dan Denpasar
      BATUNGADEG ( sebelah utara) adalah tempt berbatu dan kebun dari sini kita dapt mlihat dari kejauhan keindahan pantai
      Pemuda pemudi juga sangat rukun kami mendirikan sebuah organisasi STT. Tri mitra dharma selain itu ada sebuah organisasi suka duka semeton pengubugan(SEPENAN) dimana anggotanya tidak dari pengubugan saja melainkan juga dari banjar lain yg memiliki visi misi susang senang bersamasama dan cinta damai….Ayooo ke PENGUBUGAN
      Kuta,29 juni 2012

      ( budi puspa k. )

      1+ add boedi booedi

    11. satyawati berkomentar :

      saya sangat tertarik dengan upacara nampah batu di desa depehe? Apakah upacara tersebut masih bisa ditemukan di sana? Kira-kira siapa yang bisa dihubungi untuk mengetahui tradisi tersebut lebih lengkap.

    12. Nyoman Suparsana,SH.H berkomentar :

      Untuk Saudari Satyawati, saya bisa bantu untuk memberi informasi mengenai tradisi namopah batu yang unik dan mistik ini,
      upacara/tradisi ini dilangsungkan pada hari purwani(sehari sebelum puncak piodalan) yang jatuh setiap purnama sasih karo, setiap bulan Agustus, mengenai siapa yang bisa dihubungi, silahkan saja datang ke desaa Depeha, tentunya cari bapak kelian adat desa depeha. tradisi unik ini bisa menjadi sebuah kajian ilmiah berupa tesis atau karya tulis lain dalam persfektif sejarah, mitologi dan kesakralan dari upacara ini yang masih dan akan terus kami jaga.

    13. Nyoman Suparsana,SH.H berkomentar :

      Saudaraku semua yang dari desa Depeha, saat ini
      sedang dilalukan penelitian dan pengkajian mendalam dan menyeluruh tentang sejarah desa kita tercinta “Depeha” oleh Unud dimana telah diseminarkan sebuah judul desertasi dengan judul “Upacara ‘Nampah Batu’ di Desa Depeha, Kec. Kubutambahan, Buleleng” oleh Prof. Dr. AABG Wirawan,S.U. (Ketua Program Studi Doktor Kajian Budaya Unud) pada hari Selasa, 29 Januari 2013; Pk. 09.00-11.30, Aula Faksas Unud Jl Nias 13. Semoga nantinya kita selaku warga/Damuh Depeha dapat membacanya dengan seksama demi untuk lebih mengenal sejarah dan jati diri kita semua yang nantinya akan menjadi pertanyaan mendasar bagi anak cucu kita yang tentu adalah sebuah kewajiban kita untuk bisa menjawab dengan data, fakta dan kajian empiris serta logika dan tingkat pemikirabmasyarakat yang semakin cerdas dan kritis, tidak ada lagi”MULE KETO”. Mari kita nantikan hasilnya,,,!

    14. Nyoman Ciliasih berkomentar :

      Di desa Depeha ada 3 Pura yang dimana para pemedek yang mau tangkil tidak diperbolehkan bantennya pakai daging babi, bunga warna merah, sama jajanan yg manis2. ke 3 pura itu adalah Pura Mas, Pura Taman, dan Pura Tirta Maji, yang mana ke tiga pura tersebut letaknya berbatasan dengan Desa Tunjung.

    15. arsa wijaya berkomentar :

      saya adalah salah satu org yg pernah berusaha keras membantu penyelamatan prasasti indrapura yg merupakan cikal bakal dari desa depeha, namun karena dukungan dari tokoh dan pemuka desa adat sangat minim, maka usaha saya dan penglingsir saya jadi sia2…saat ini saya hanya bisa berharap ada yg bisa membantu niat tulus dari kami (saya, keluarga dan penglingsir). utk data berupa copy prasasti indrapura ada saya pegang hingga saat ini, yg mungkin suatu saat nanti bisa berguna bagi anak cucu kita..

    16. arsa wijaya berkomentar :

      banyak hal yg bisa digali akan misteri indrapura (depeha) asalkan dengan niat yg tulus, saya yakin ida sesuhunan yg berstana di wewidangan kerajaan indrapura akan memberikan restunya.

    17. Drs I Gede budiasa berkomentar :

      Saya adalah mantan kelian adat Desa Depeha yang ngayah pada tahun 1998 sampai dengan tahun 2001 karena kesibukan saya sebagai Direktur utama Pt BPR nusamba kubutambahan saya serahkan tugas mulia itu ke orang lain. Untuk menelusuri prasasti Desa Depeha yang bernama prasasti munduk jaran.namun saya tdk tau mulai dari mana tolong hu no ini 08123990632

    18. komang berkomentar :

      wahhh, banyak sekali imformasi yang saya dapat dari buka halaman ini,untuk pak nyoman suparsana SH.H boleh tiang tahu tentang bapak…terimakasih sebelumnya pak nyoman.tiang komang dari batungadeg.

    19. Mangku masa,pengubugan bahbiu berkomentar :

      A.    Monografi Desa Depaha
      Penamaan Desa Depeha diambil dari kata dipa yang artinya sinar. Diceritakan masyarakat desa kalih likur pindah ke suatu tempat dengan mengikuti sebuah sinar yang berasal dari Pura Dalem purwa. Selain itu, kata dipa,  juga diambil untuk mengenang salah satu raja Bali yang bernama Suradipa. Kala itu raja Suradipa bertapa di puncak Bukit Sinunggal sampai ajak menjemput. Untuk mengenang beliau, desa/kerajaan Indrapura diberi nama Desa/Kerajaan Dipa menjadi Depaa dan sekarang menjadi Depeha.
      Kesenian yang ada di Desa Depeha yang dituturkan oleh para informan bahwa Desa Depaha memiliki kesenian-kesenian sacral dan gamelan yang dipakai untuk mengiringi upacara/ritual keagamaan, seperti misalnya tari Gambuh, Tari Sanghyang, Tari Baris Gede, tari Baris Tamiyang, Baris Jojor, Baris Dadap, Baris Omang, Tari Leko, dan tari Gandrung. Desa Depeha merupakan desa yang terdiri dari perkumpulan kerama Bali yang dalam melaksanakan aktivitas keagamaannya berdasarkan agama Hindu. Pelaksanaan agama Hindu dilakukan berdasarkan tata aturan adat, sima dresta, desa kala patra, desa mawecara. Semuanya itu dilandasi oleh tiga kerangkan agama hindu, yaitu: filsafat, etika, dan upacara yang implementasinya terlihat dalam pelaksanaan Tri Hita Karana, yaitu; Parhyangan, Pawongan, dan Palemahan.
      Kegiatan pakraman di Desa Depeha dipimpin oleh Kelian Desa Adat dan dibantu oleh prajuru Desa yang lain, seperti petajuh (wakil), penyarikan (juru tulis), petengen (bendahara), dan kelian tempek yang dibantu oleh kasinoman (juru arah), sedangkan dalam pelaksanaan upacara ritual dipimpin oleh penghulu adat. Secara terstruktur para penghulu desa adat disebut Dulu Desa (Hulu Desa). Yang berjumlah 22 orang yang disebut Desa Kalih Likur, Desa Kalih Likur itulah sebagai pemimpin kegiatan upacara yadnya di Desa Depeha.
      Dalam pelaksanaan upacara yadnya, umat Hindu di Desa Depeha percaya terhadap satu Tuhan dalam tiga perwujudanNya, yaitu; Brahma (Pura Desa), Visnu (Pura Puseh), Siva (Pura Dalem). Disamping itu, masyarakat juga mempercayai adanya kekuatan-kekuatan gaib yang ikut menjaga kelestarian desa mereka. Mereka percaya dengan adanya leluhur, babi duwe, dewi Danu, sehingga dari kepercayaannya itu dibuatkanlah tempat untuk persembahan, selain Pura-pua yang ada di Desa Depeha seperti  Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem, terdapat juga pura-pura lain seperti Pura Kawitan, Pura Tirta Maji, Pura Banua (Sang Kumpi), Pura Sang jero, Pura Bukit Tunggal, Pura Mas. Selain itu, terdapat juga pura-pura yang dipakai memuja dewa-dewi, seperti Dewi Sri yang dipercaya sebagai Dewi Kemakmuran. Pura-pura tersebut adalah Pura Subak Abian, Pura Tumpuk sari, Pura Tumpuk Kelod, Pura Sanglung, Pura Beji, Pura Batungadeg, Pura Madya, dan Pura Tamansari.
       
      B.     Sejarah Upacara Nampah Batu
      Belum ditemukan catatan atau sumber tertulis yang memberikan petunjuk kapan masyarakat Desa Depaha pertama kali menyelenggarakan upacara Nampah Batu. Tradisi Upcara Nampah Batu telah dilaksanakan secraa turun temurun oleh masyarakat Desa Depaha yang dirangkaikan dengan upacara pujawali di Pura Puseh. Pujawali di Pura Puseh Desa Depaha jatuh pada setiap Purnama sasih Karo. Walaupun upacara di Pura Puseh telah ditetapkan setiap Sasih Karo dalam kenyataan pelaksanaan upacara Nampah batu tidak mesti dilaksnakan setiap tahun. Pelaksanaan upacara Nampah Batu ditentukan oleh keputusan penghulu Desa berdasarkan perhitungan penanggalan Bali sehingga upacara nampah Batu bisa berlangsung setahu, dua tahun bahkan bisa lima tahun sekali. Pada hari purwani, sehari sebelum upacara pujawali di pura Puseh, oleh masyarakat Desa depaha disebut Nyumun sari, dilaksanakan upacara Nampah Batu atau Nampah Duwe. Upacara tersebut dirangkaikan dengan acara menek medesa, artinya warga masyarakat Desa Depaha yang gtelah melangsungkan upacara perkawinan yang dalam Agama Hindu disebut telah melaksanakan kehidupan Grhastha asmara wajib ikut melaksanakan upacara Nampah Batu Duwe. Walaupun belum ditemukan bukti tertulis tentang kapan pelaksanaan ritual Nampah Batu mulai dilakuan oleh warga Desa Depaha, tetapi tradisi lisan (oral history) yang ada dalam masyarakat memberikan petujuk untuk mengetahui keberadaan upacara Nampah Batu sebagai salah satu tradisi unik yang masih dipertahankan sampai saat ini.
      Pelaksanaan upacara Nampah Batu memiliki latar belakang etnografi yang berkaitan dengan cerita yang bersifat supernatural yang menceritakan hubungan antara Dewi danu yang bersthana di Pura ulun Danu Batur di Kintamani dengan Ayu Manik Galih yang dipuja oleh masyarakat Desa Depeha sebagai Dewi Kesuburan. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, karena saying Dewi Danu terhadap masyarakat Depeha muncul ide Dewi danu memberikan sumber mata air kepada masyarakat Desa Depeha agar di Desa Depeha memiliki sawah untuk menunjang kehidupan masyarakat. Untuk mewujudkan keinginan Dewi Danu diutuslah seorang prajurit pergi ke Desa Depeha membawa sibuh yang berisi air yang selanjutkan akan dituangkan disalah satu tempat di Desa Depeha sebagai sumber air. Utusan Dewi dani mempunyai kemampuan yang tinggi, sehingga muncul ide merubah dirinya menjadi babi, hal ini dilakukan agar perjalanan yang cukup jauh dari Desa Batur ke Desa Depeha bisa dilakukan dengan cepat mengingat kondisi wilayah sepanjang perjalanan merupakan kawasan hutan lebat dengan semak belukar yang menyulitklan perlajanan manusia. Setelah utusan sampai di Desa Depeha, babi itu langsung menghadap kepada Ratu Ayu Manik Galih dan menyerahkan Sibuh berisi air itu kepadaNya. Setelah sibuh diterima dan diamati ternyata didalam sibuh berisi air itu terdapat lintah, Ratu Ayu Manik Galih sangat terkejut, dan disuruhlah babi itu membuang jauh-jauh sibuh berisi air itu di wilayah pantai. Dengan rasa kecewa dan sedih, babi itu menuruti perintah Ratu Ayu Manik Galih dan pergi dari Desa Depeha menuju arah utara dan sampai disuatu tempat dekat pantai (Desa Sanih). Di daerah dekat pantai itulah sibuh itu dibuang, dan secara tiba-tiba ditempat sibuh dibuang muncul sumber air yang sangat jernih (yeh mumbul). Sumber air yang masih dapat disaksikan sampai sekarang dengan nama Air Sanih.
      Maksud baik dari utusan Dewi Danu ternyata mendapat perlakuan yang tidak baik dan merasa sangat kecewa Karena telah diperlakukan tidak adil. Karena kesal babi utusan itu mengeluarkan kutukan agar sutu saat nanti apabila dilaksanakan upacara yang dihaturkan kepada Ratu Ayu Manik Galih supaya babi yang dipergunakan untuk sarana upacara terbut berubah menjadi batu. Selain itu, ditegaskan pula apabila masyarakat Desa Depaha melaksanakan suatu upacara dan melaksanakan upacara melasti agar nunas tirta ke air Sanih (Yeh Mumbul).
      Diceritakan pada suatu hari masyarakat desa Depeha sedang mempersiapkan upacara di Pura Puseh. Rangkaian upacara tersebut diawali dengan upacara menghaturkan puja wali ke hadapan Ratu Ayu Manik Galih. Ratu Ayu Manik GAlih merupakan sakti Dewa Visnu dalam manifestasi beliau sebagai Dewi kesuburan. Puajawali yang dihaturkan kehadapan Ratu Ayu Manik Galih dilaksanakan pada hari purwani purnama karo, sehari menjelang hari purnama sasih karo yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan istilah Nyumunsari. Sebelum upacara masyarakat mempersiapkan segala persiapan dan perlengkapan upacara, salah satunya adalah babi yang akan digunakan untuk perlengkapan upcara. Namun sebelum disembelih, babi tersebut terlepas dan lari menuju lembah dekat Pura Puseh yang dikenal dengan nama yeh kedis (Yeh Kedas). Beberapa orang mengejar babi tersebut, sampai di lembah yeh kedis salah seorang berteriak “nah ne ye celenge….” (nah ini dia babinya), sambil menunjuk salah satu batu hitam besar yang menyerupai babi yang ada di tempat tersebut. Setelah diamati dengan seksama ternyata yang ditunjuk itu adalah batu hitam besar. Akhirnya orang-orang yang mnengejar babi itu memutuskan untuk membagi diri menjadi dua kelompok, untuk mencari kea rah barat dan ke arah timur. Pencarian babi tersebut memberikan nama-nama pada daerah yang dilalui, yaitu: Munduk Ngandang, Ancut, Campuhan, Yeh Alang, Ceregah, Batu Lumbang, Celuk, Bukit Tumpeng, Grombong, Gerembiang, Sanglung, Tumpuk, Taman Sari, Seganti, Peninjauan, Purna, Grembeng, Meringan, Bingin, Yeh Lesung, Tampul, Munduk Tegeh, Prahyangan (Payangan), Batungadeg, Madya, Sianga, Pegubugan, Yeh Pande, dan Soca. Karena terus mencari tetapi tidak menemukan babi yang lepas, akhirnya orang-orang kembali serta mendengarkan sebuah Pawisik (bisikan alam gaib) bahwa babi yang dicari berada dilembah Yeh Kedis berupa batu, masyarakat yang mempersiapkan upacara tersebut sepakat mengganti babi tersebut dengan sebuah batu (Batu Duwe) yang terdapat di lembah Yeh Kedis mengganti babi yang hilang. Selanjutnya batu tersebut digotong beramai-ramai seperti menggotong seekor babi dibawa ke areal jaba tengah Pura Puseh untuk dipotong secara bersama-sama sebagai perlengkapan upacara mengganti babi yang terlepas tersebut sebagai persembahan kepada Ratu Ayu Manik Galih. Dari hal itulah muncul istilah Nampah Batu karena realitasnya yang dipotong oleh masyarakat adalah sebuah batu sebagai symbol dari Bawi Duwe yang keberadaannya diyakini berada di lembah Yeh Kedis. Sebagai ganti daging babi digunakanlah jenis kacang-kacangan dan sayur mayor yang merupakan hasil bumi masyarakat Desa Depeha yang dikenal dengan lelampadan. Lelampadan inilah yang diolah tanpa menggunakan minyak untuk selanjutnya dipersembahkan kehadapan Ratu Ayu Manik Galih dalam manifestasi Tuhan sebagai Dewi Kesuburan.
       
      C.     Bentuk Upacara Nampah Batu
      Salah satu bentuk upakara yang menonjol dan bahkan selalu dipergunakan dalam kegiatan keagamaan di Bali khususnya agama Hindu adalah banten. Penggunaan sarana banten ini tidak terlepas dari terbatasnya kemampuan manusia, sehingga dalam upaya untuk menghubungkan diri dengan Tuhan, sarana inilah yang dipergunakan sebagai alat untuk konsentrasi sehingga tujuan bisa tercapai.
      Banten merupakan sarana persembahan yang sekaligus sebagai perwujudan simbol-simbol Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta dengan manifestasi-Nya. Banten adalah persembahan suci yang dibuat dari sarana tertentu antara lain: bunga, buah-buahan, daun, makanan, jajan, dan lainnya, disamping sarana yang sangat penting lainnya seperti air dan api (Titib,2003:134). Dengan demikian banten adalah simbol yang sangat universal sifatnya yaitu sebagai simbol dari pikiran manusia untuk disampaikan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sebagai simbol dari alam semesta beserta isinya, dan simbol penyucian atau kesucian hati.
      Bahan-bahan yang dipergunakan dalam banten secara jelas tertuang dalam kitab Bhagawadgita, adyaya IX, sloka 26 yaitu:
      patram puspam phalam toyam
      ya me bhaktya prayacchati,
      tad aham bhaktyu pahrtam
      asnami prayatatmanah.
      Terjemahannya:
      siapapun yang sujud kepada-Ku dengan mempersembahkan
      setangkai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan,
      atau seteguk air, Aku terima sebagai bhakti
      persembahan dari orang yang berbakti suci. (Pudja,1999:239)
      Dari uraian sloka Bhagawadgita diatas sangat jelas disebutkan bahwa bahan-bahan yang menjadi pokok persembahan atau banten adalah daun, bunga, buah, dan air yang mana di Bali bahan tersebut akan ditata dan dirangkai sedemikian rupa sehingga menjadi satu kesatuan yang indah.
      Bentuk upakara yang biasa dipergunakan di Desa Pakraman Depeha dari tahun ke tahun terus mengalami perubahan. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan pemikiran serta kesadaran masyarakat yang tidak hanya menerima begitu saja apa yang telah diwariskan (Kuna Drsta), tetapi berupaya mencari perbandingan dengan konteks susastra agama yang berlaku (Sastra Drsta).
      Pelaksanaan  upacara agama selalu menggunakan sarana atau peralatan yang disebut dengan upakara. Upakara merupakan alat untuk menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi Wasa beserta dengan manifestasi-Nya. Ada beberapa sarana dan bahan yang dipergunakan untuk melengkapai jalannya pelaksanaan upacara yaitu:
      1.        Sebuah batu (duwe) yaitu sebuah batu yang dijadikan simbol seekor babi.
      2.        Tempayan, pisau, kain putih yang digunakan untuk prosesi memotong Duwe.
      3.        Desa Anyar (pasangan baru menikah) yang bertugas melaksanakan prosesi nampah (memotong babi).
      4.        Tetabuhan untuk mengiringi Desa Anyar menari.
      5.        Penari yang terdiri dari seluruh Desa Anyar Perempuan menarikan tarian rejang dewa, dan Desa Anyar Laki-laki menarikan tarian baris.
      Seluruh sarana upacara tersebut sangatlah penting karena tanpa sarana-sarana tersebut maka pelaksanaan upacara Nampah Batu tidak bisa dilaksanakan.
      Ada beberapa bentuk persembahan yang digunakan pada upacara Upacara Nampah Batu di Pura Puseh, Desa Pakraman Depeha diantaranya berdasarkan hasil pengamatan serta hasil wawancara dengan beberapa tukang banten atau Sarati di Desa Pakraman Depeha yaitu sorohan banten pangresikan, banten pejati, jerimpen,daksina lingga, canang pemendak dan segehan aseet dan sorohan banten ayaban.
      D.    Fungsi Upacara Nampah Batu
      Sesungguhnya semua aktivitas keagamaan yang dilaksanakan oleh umat Hindu yang merupakan prakteknya ajaran agama Hindu sesederhana dan semegah apapun bentuknya dibalik totalitas nilai-nilai religius intinya mengandung nilai-nilai seni (estetika), sebagai bentuk ekspresi dari umat dalam melaksanakan ritual dalam upacara. Terlihat jelas nilai seni itu terungkap dalam upacara Nampah Batu yang dilaksanakan di Pura puseh, Desa Pakraman Depeha seperti banten yang digunakan dalam upacaranya merupakan hasil cipta, rasa, serta karsa suci mereka yang memiliki nilai tak terhingga. Yang dalam pengerjaannya tetap mengikuti pola aturan tertentu mulai dari jejahitannya, buah, jajan, nasi, rerasmen, sampian atau reringgitannya sehingga tidak terlepas dari nilai etika dan moral.
      Selain itu nilai seni tercermin pula pada  seni tetabuhan, seni kidung, seni tari dan yang lainnya termasuk cara berpakaian umat pun adalah ungkapan sebuah rasa seni. Dapat pula dilihat saat proses ngayah menari untuk Desa Anyar baik laki-laki maupun perempuan secara bersama-sama mereka menari. Masyarakat selalu berupaya untuk memberikan suatu persembahan yang terbaik.
      Menurut jero mangku pengemong pura dijelaskan bahwa upakara atau banten juga berfungsi sebagai sarana penyucian atau pembersihan. Dalam Upacara Nyumun Sari dalam piodalan di Pura Puseh Desa Pakraman Depeha mempergunakan beberapa jenis banten yang termasuk dalam katagori sebagai sarana penyucian seperti: 1)  Banten yang ditujukan pada para bhuta serta  hal-hal yang bersifat duniawi lainnya yaitu banten biyakala, banten durmanggala, penyucian dalam hal ini adalah merubah hal-hal yang bersifat kurang baik agar menjadi penolong serta berguna bagi yang melaksanakan yadnya. 2)  Banten penyucian  yang ditujukan kepada para Dewa-Dewi serta hal-hal yang bersifat bhatiniah seperti banten prayascita, Banten Penyeneng, banten panglukatan/penyucian dalam hal ini bertujuan agar dalam melaksanakan upacara dapat memancarkan sinar suci, sinar kebijaksanaan yang berguna bagi yang melaksanakan upacara serta dapat diterima oleh Tuhan. 3)  Ayam putih yang dipersembahkan saat mapiuning di Pura Desa  oleh Desa Anyar merupakan simbolis kesucian pikiran dan hati sebagai awal  akan memulai bahtera rumah tangga. Sehingga apa yang akan menjadi tujuan kedua pasangan tercapai.
      E.     Makna Upacara Nampah Batu
      1.      Makna Simbolik
      Secara implisit, banten yang digunakan  dalam Upacara Nampah Batu sangat sarat mengandung nilai-nilai simbolik hal itu sangat relepan dengan teori simbolik Kant yang menyatakan bahwa dimensi simbol merupakan penggambaran tidak langsung analog. Bentuk banten Upacara Nampah Batu yang digunakan sebagai sarana pelengkap upacara piodalan di Pura Puseh, Desa Pakraman Depeha merupakan penggambaran secara tidak langsung dari yang abstrak menurut konsep sastra yang digunakan sebagai acuan pelaksanaan upacara tersebut. Kemampuan manusia sangat terbatas untuk memahami hal-hal yang bersifat abstrak sehingga perlu diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol untuk dapat menjangkau yang bersifat abstrak itu. Eksistensi banten pada Upacara Nampah Batu dalam piodalan di Pura Puseh sesungguhnya merupakan instrumen untuk menghubungkan dunia material dengan dunia spiritual.
      2.      Makna Solidaritas
      Dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama, interaksi dengan orang lain sangatlah penting, karena sebagai mahluk sosial manusia tidak bisa hidup menyendiri. Interaksi sosial inilah yang mendasari tumbuhnya rasa solidaritas dalam masyarakat. Salah satu wujud solidaritas dalam masyarakat khususnya di Desa Pakraman Depeha adalah gotong-royong. Inilah wujud solidaritas yang memiliki nilai budaya warisan leluhur. Gotong-royong ini merupakan bentuk kerjasama yang dilandasi oleh rasa saling cinta kasih, tenggang rasa, saling asah-asih-asuh, saling menghargai, rasa saling memiliki, dan sebagainya yang ditopang oleh semangat kebersamaan serta merupakan perwujudan dari konsep ajaran Agama yaitu Tat Wam Asi (itu, Ia adalah kamu),  yang merupakan adat istiadat yang kuat dalam hal hubungan antara warga yang satu dengan warga yang lain didasarkan atas moral yang telah melembaga dalam diri individu.
      3.      Makna Etika dan Budaya
      Persembahan yang dilakukan oleh umat Hindu khususnya yang dituangkan melalui ajaran Panca Yadnya memiliki nilai-nilai moral dan spiritual yang sangat tinggi. Moral merupakan seperangkat aturan tingkah laku yang mengacu pada kaedah-kaedah yang sesuai dengan ajaran agama. Dengan ajaran moral, maka manusia dihapkan mampu untuk melaksanakan perbuatan yang baik dan benar yang sesuai dengan ajaran agama.

    20. Mangku masa,pengubugan bahbiu berkomentar :

      mailto:boedi.booedi%40facebook.com

      boedipuspa@smartfren.blackberry.com

    Tulis Komentar