Ayam Betutu Ibu Adi di Gilimanuk
Ditampilkan oleh Admin
Warga Bali tentunya sudah mengenal masakan Ayam Betutu. Masakan yang konon berasal dari Gilimanuk, Bali Barat, bercita rasa lezat, gurih dan pedas. Masakan yang berintikan Ayam kampung dikukus dengan beraneka ragam bumbu lengkap. Pedas nya murni tanpa ada tambahan gula. Jika di Jawa, semua masakan mayoritas menyertakan manis sebagai penguat cita rasa, tapi di Bali, lebih mengutamakan cita rasa bumbu yang tersaji dalam bahan makanan.
Masakan Ayam Betutu banyak dijumpai di Denpasar, tentunya dengan berbagai macam citarasa. Semua menggunakan bumbu lengkap, tetapi kekuatan rasa dari tiap-tiap warung penyedia Ayam Betutu berbeda-beda. Meski saya belum maksimal berkunjung ke semua warung penyedia Ayam Betutu, tetapi secara acak pernah merasakan masakan Bali ini. Pada kesempatan ini, saya sudah 2 kali merasakan Ayam Betutu asli langsung dari tempat asalnya, yaitu Gilimanuk, Bali.
Kesempatan singgah dan merasakan Ayam Betutu Ibu Adi di Gilimanuk terjadi ketika melakukan perjalanan bolak balik Jawa - Bali. Warung itu menyediakan menu Ayam Betutu dan menu-menu lainnya, misal nasi pecel, nasi campur dan lain sebagainya. Ibu Adi buka 24 jam nonstop, sehingga cukup mudah jika sewaktu-waktu lewat di Gilimanuk. Warung cukup besar dan dapat menampung kurang lebih 30an orang. Toilet adalah fasilitas pelengkap yang cukup berguna bagi pelancong untuk membersihkan diri ataupun buang hajat.
Soal rasa Ayam Betutu, jelas beda dengan Denpasar. Saya cukup sering bilang hmm … enak … lezat … mak nyus (meniru si Bondan), nendang neh rasa dan pedas nya. Pengakuan atas rasa khas bumbu dan Ayam diperkuat lagi cerita dari Ibu Adi sendiri, bahwa Ayam Betutunya sering di eksport ke berbagai kota di Jawa dan Bali. Ibu Adi sering berkirim Ayam Betutu ke Denpasar dan kota lainnya untuk kebutuhan warung yang menjual menu itu. Banyak juga yang minta dikirim ke Semarang, Surabaya, Jogja dan kota-kota lain di Jawa. Pengiriman biasanya menggunakan bus dan travel yang selalu lewat di Gilimanuk, sebelum menyeberang ke Jawa.
Satu paket Ayam Betutu terdiri dari 1 ekor ayam kampung, bumbu lengkap, sambal terasi, sambal mata, dan kacang. Jika Ayam betutu itu di makan di tempat, akan ditambahkan menu sayur-sayur rebus, misal dari ketela, bayam, terong, dan nasi 1 bakul. Kebetulan saya pesan 1 paket Ayam Betutu dibungkus pada pukul 16.00 WITA. Ibu Adi berpesan agar Ayam Betutu itu harus dihangatin sebelum pukul 10 pagi keesokan harinya. 1 paket Ayam Betutu itu berharga Rp. 60.000. Jika ingin pesan 1 piring nasi campur berlauk Ayam Betutu, akan dihargai Rp. 9000.
Banyak tersedia warung Ayam Betutu di sepanjang jalan Gilimanuk. Warung Ibu Adi ini boleh juga di coba. Lokasi warung Ayam Betutu Ibu Adi berada di Jl. Raya Gilimanuk no. 31. Jika dari arah Denpasar, warung ini berada di kiri jalan, setelah Masjid Besar Gilimanuk. Jika dari arah Pelabuhan, warung ini berada di kanan jalan sebelum Masjid Besar Gilimanuk. So, bungkus ?.
Sumber : www.hendra.ws
» Kategori Tempat Makan, Wisata Kuliner | Isi komentar
Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha)
Ditampilkan oleh Admin
Universitas yang satu ini berlokasi di luar kota Denpasar, tepatnya di Singaraja, ibukota kabupaten Buleleng.
Mulanya, UNDIKSHA Singaraja adalah lembaga pendidikan yang telah dikenal dengan nama IKIP Negeri Singaraja yang dulunya adalah lembaga pendidikan berupa kursus B1 Bahasa Indonesia (1955).
Dua tahun kemudian, dibuka kursus B1 Perniagaan. Dan lima tahun kemudian, keduanya dilebur menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang berada dibawah naungan Universitas Airlangga Surabaya.
Ketika Universitas Udayana berdiri, FKIP ini dilepaskan dari Universitas Airlangga, menjadi salah satu fakultas di Universitas Udayana, Denpasar.
Belakangan FKIP tersebut dialihkan menjadi IKIP Malang dan diberi nama IKIP Malang cabang Singaraja.
Fakultas yang bisa ada di Undiksha diantaranya Fakultas Bahasa dan Seni
Untuk informasi lebih lengkap dapat menghubungi alamat berikut :
Universitas Pendidikan Ganesha
Jl. Ahmad Yani 87 Singaraja
Telp. 0362 22570
Fax. 0362 25735
» Kategori Pendidikan, Universitas | Isi komentar
Universitas Warmadewa
Ditampilkan oleh Admin
Universitas Warmadewa atau biasa disingkat Unwar merupakan salah satu perguruan tinggi di Denpasar, Bali. Berada di lingkungan Kopertis Wilayah VIII di bawah naungan Yayasan Korpri Bali. Nama universitas diusulkan oleh Gubernur Bali saat itu, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra (alm) untuk menghormati dan mengenang seorang raja Bali sebelum pemerintahan Majapahit, Sri Kesari Warmadewa.
Fakultas yang dimiliki pun lumayan lengkap mulai dari fakultas ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Pertanian, fakultas Sastra, FISIP, Fakultas Tehnik dan Fakultas Kedokteran.
Untuk informasi lebih lengkap, silakan menghubungi alamat di bawah ini :
Jl. Terompong 24, Tanjung Bungkak
Denpasar Bali Indonesia 80235
Telepon: +62.361.244450
Fax: +62.361.244450
» Kategori Pendidikan, Universitas | Isi komentar
Universitas Mahasaraswati Denpasar
Ditampilkan oleh Admin
Universitas Mahasaraswati Denpasar yang dikenal dengan Unmas Denpasar merupakan salah satu perguruan tinggi swasta di Bali, berada di lingkungan Kopertis Wilayah VIII di bawah pengelolaan Yayasan Perguruan Rakyat Saraswati Denpasar. Cikal bakal berdirinya Unmas Denpasar bermula dari didirikannya Institut keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Saraswati tanggal 8 Desember 1963.
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)
Memiliki lima Program Studi, yaitu:
1. Program Studi Pendidikan Sejarah
2. Program Studi Pendidikan Matematika
3. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
4. Program Studi Pendidikan Biologi
5. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris
[sunting] Fakultas Pertanian (FP)
Memiliki dua Program Studi, yaitu:
1. Program Studi Agroekoteknologi
2. Program Studi Agribisnis
[sunting] Fakultas Ekonomi (FE)
Memiliki tiga Program Studi, yaitu:
1. Program Studi Ilmu Ekonomi
2. Program Studi Manajemen
3. Program Studi Akutansi
[sunting] Fakultas Hukum (FH)
Memiliki satu Program Studi, yaitu Program Studi Ilmu Hukum
[sunting] Fakultas Teknik (FT)
Memiliki satu Program Studi, yaitu Program Studi Teknik Sipil.
[sunting] Fakultas Kedokteran Gigi (FKG)
Memiliki satu Program Studi, yaitu Program Studi Pendidikan Dokter Gigi.
» Kategori Pendidikan, Universitas | Isi komentar
Universitas Pendidikan Denpasar (Undiknas)
Ditampilkan oleh Admin
Satu lagi perguruan tinggi yang bisa menjadi alternative untuk melanjutkan pendidikan di Bali. Lokasinya di Denpasar, tepatnya di Tukad Yeh Aya, Denpasar 80225, yaitu Undiknas atau Universitas Pendidikan Nasional.
Berbagai fakultas tersedia seperti fakultas ekonomi, hukum, tehnik dan sebagainya.
Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi alamat berikut:
Universitas Pendidikan Nasional
Jl. Tukad Yeh Aya, Denpasar 80225 - PO.BOX 3261, Bali - Indonesia - Telp / Fax : +62 361 235203
Email : info[at]undiknas.ac.id
» Kategori Pendidikan, Universitas | Isi komentar
Transfer Service Bersama Ekuta
Ditampilkan oleh Admin
Ekuta sebagai komitmen menjadi partner liburan Anda di Bali mulai tahun baru ini memberikan layanan transfer in dan transfer out dari dan ke Bali airport. Layanan transfer bisa dari Bandara Ngurah Rai ke hotel di kawasan Kuta, Seminyak, Legian, Kerobokan, Nusa Dua, Sanur, Uluwatu, Jimbaran, Ubud dan Kintamani.
Biaya untuk transfer adalah :
Rp. 150.000 untuk wilayah Kuta, Seminyak, Legian, Sanur, Nusa Dua, Jimbaran, Denpasar
Rp. 200.000 untuk wilayah Ubud, Batubulan, Payangan
Rp. 250.000 untuk wilayah Kintamani.
Kami juga menyediakan jasa paket tour atau penyewaan mobil untuk jalan-jalan di Bali.
» Kategori Transportasi | Isi komentar
Mengapa “Gajah Mada Town Festival”?
Ditampilkan oleh Admin
INISIATIF Pemkot Denpasar dengan dukungan Desa Pakraman Denpasar untuk menggelar “Gajah Mada Town Festival” pada 28-30 Desember pantas disambut karena akan memberikan ruang rekreasi sosial dan apresiasi kultural. Acara budaya ini mengingatkan orang pada “Festival Gajah Mada” yang digelar 44 tahun yang lalu di tempat yang sama. Namun, satu pertanyaan penting agaknya pantas disampaikan.
Mengapa kegiatan budaya di pengunjung tahun 2008 ini disebutkan dengan istilah “Gajah Mada Town Festival”? Mengapa tidak menggunakan istilah yang lebih luas cakupannya yaitu “Denpasar Town Festival” atau “Festival Kota Denpasar” saja? Apakah Jalan Gajah Mada yang hendak dipromosikan ataukah kota Denpasar?
Menjelang festival, ruas Jalan Gajah Mada terus dipercantik. Bagian jalan yang bolong diperbaiki. Di kawasan Timur dipasang kursi-meja rekreasi, di sepanjang jalan dipasang lampu-lampu hias. Emperan toko dihiasi dengan pohon merambat guna menambah pesona hijau dan alami Gajah Mada yang sebelumnya telah ditanami kembang jepun. Di pojok Barat, sejak awal Desember ini dipasang dua tanda seperti prasasti yang bertuliskan “Kawasan Heritage Jalan Gajah Mada Denpasar”. Lampu sorot dipasang sehingga malam hari tanda ini bisa jelas terbaca, walau publik mungkin akan bertanya-tanya apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan “kawasan heritage”.
Selama acara festival akan digelar bazar makanan tradisional (aspek kuliner), parade busana, parade dokar, pentas seni termasuk Wayang Cenk Blonk. Jalan Gajah Mada akan menjadi titik pusat festival. Panitia akan mengalihkan jalur lalu-lintas dan mempermaklumkan antara lain lewat radio Pemkot Denpasar bahwa akan terjadi kemacetan selama acara berlangsung.
Inspirasi 1964
Kiranya gelar “Gajah Mada Town Festival” kali ini mendapat inspirasi dari “Festival Gajah Mada” (FGM) yang dilaksanakan selama seminggu, 1-7 Juli 1964, di Jalan Gajah Mada.
Acara FGM 1964 yang berlangsung seminggu itu diisi dengan aneka pertunjukan, berupa kesenian daerah Bali, kesenian nasional, dan dari etnik/agama lain. Kelompok seni yang tampil pun beraneka, mulai dari pelajar, mahasiswa, kelompok profesi, sekaa seni dari desa, dan dari kepolisian. Acara pertunjukan yang beragam dan cukup banyak digelar serentak serentak setiap tersebar dalam beberapa panggung. Setidak-tidaknya ada tiga panggung, tempat pementasan digelar: Panggung Wisnu (di Timur), panggung di Pasar Senggol (tengah), dan Panggung Indra (di Barat).
Unsur kesenian Bali adalah lomba banten tegeh, pertunjukan seni-drama prembon berlakon “Mpu Beradah”, barong landung, kecak Bona, wayang kulit, tari topeng RRI Denpasar, janger TGA (Taman Guru Atas, Saraswati), janger SLUB (Sekolah lanjutan Umum Bawah, Saraswati), dan arja RRI Denpasar. Kesenian nasional berupa band, seperti Orkes Dria Raba, Band Putra Dewata (pimpinan AA Made Tjakra), Band FKHP (Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan), Band Aneka Ria, Orkes Sinar Remaja, dan Band Bhineka Nada. Kelompok band Hawaiian dari kepolisian juga ambil bagian.
Ada juga tari-tarian nasional yang disampaikan oleh SMP Negeri Denpasar dan Fakultas Kedokteran Unud. Yang tidak ketinggalan dalam Festival Gajah Mada adalah pementasan sulap dan lawak. Acara umumnya berlangsung malam hari, dan meriah sekali. FGM menjadi aktivitas seni multikultur dengan tampilnya “Seruling Pemuda Katolik” dan Pencak Jawa Barat.
Bisa dibayangkan, betapa ramainya Jalan Gajah Mada saat pertunjukan berlangsung. Penonton yang datang dengan sepeda, angkutan umum, atau jalan kaki tentu tidak menimbulkan masalah kemacetan karena situasi kota belum sesibuk sekarang. Perlu dicek lebih jauh, siapa yang menjadi pelaksana FGM. Apakah pemda Badung atau mahasiswa Unud atau organisasi pelajar atau lembaga-lembaga kebudayaan yang bernaung di bawah partai politik waktu itu, atau kerja sama semuanya. Yang jelas, menurut laporna media massa, FGM berlangsung meriah, sukses, dan mencerminkan Denpasar sebagai Kota Budaya.
Pasca-kudeta 1965, FGM tidak ada lagi, namun ada acara “Denpasar Ria” (DR) yang berlangsung akhir April 1966. Selain untuk mengembangkan kreativitas seniman, acara ini juga dimaksudkan sebagai hiburan untuk “operasi mental” alias menghilangkan rasa takut yang timbul sesudah pembunuhan massal. Kegiatan pentas DR dipusatkan di ruangan tertutup, yakni di Hotel Denpasar, Jalan Diponegoro. Hotel ini sudah tidak ada lagi, lokasinya kini berupa lahan kosong, terletak beberapa blok di utara Mall Ramayana. Acara DR digagas berlangsung setiap akhir bulan. Mata acaranya kebanyakan band dan tari-tarian nasional yang antara lain diisi oleh kelompok band dari Hotel Bali Beach.
Terlalu Sempit
Nama kegiatan “Gajah Mada Town Festival” ini terlalu sempit, dan tidak terlalu tepat dari segi promosi. Bukan Jalan Gajah Mada tetapi nama Denpasar yang semestinya lebih ditonjolkan, lebih dipromosikan.
Oleh karena itu, festival semestinya diperluas menjadi “Festival Denpasar” dengan menyebarkan kegiatan ke berbagai panggung dan ruang di seputaran Denpasar. Beda dengan dulu, kini kota Denpasar lebih dari sekadar Jalan Gajah Mada. Wilayah Kota Denpasar memiliki banyak panggung dan ruang seperti Art Centre, Puri Satria, Bhajra Sandi, dan panggung RRI Denpasar. Juga ada ruang dan panggung di berbagai sekolah, kampus dan banjar.
Kalau mengadakan Festival Kota Denpasar, kegiatan pokok bisa saja dipusatkan di Jalan Gajah Mada seperti sekarang ini atau Lapangan Puputan Badung, namun kegiatan hiburan idealnya disebar ke berbagai sudut Denpasar sampai ke banjar-banjar sehingga pentas seni berlangsung semarak dan merata ke berbagai wilayah desa. Yang berpartisipasi dan mendukung tidak semestinya sebatas Desa Pekraman Denpasar tetapi juga desa pekraman lainnya.
Bisa saja tiap-tiap desa menggelar seni unggulannya masing-masing, atau pentas-silang-desa di mana kesenian Sanur tampil di Padangsambian, atau kesenian Sumerta tampil di Pedungan dan sebaliknya. Waktu pelaksanaannya bisa diperpanjang menjadi seminggu. Hanya dengan demikian usaha menjadikan Denpasar sebagai Kota Budaya kiranya lebih bergema. Apa yang baik dari FGM 1964 yang menampilkan kesenian non-Bali juga perlu dilakukan untuk menguatkan sosok Denpasar sebagai kota multikultur.
Jika ini disetujui, nama festival pun layak diganti menjadi “Festival Denpasar”, atau kalau mau gagah-gagahan memakai bahasa Inggris bisa disebut “Denpasar Town Festival”. Dalam bentuk “Festival Denpasar”, jelas yang namanya ruang rekreasi sosial, apresiasi kultural, dan partisipasi publik bisa diperluas dalam kerangka menjadikan Denpasar sebagai Kota Budaya.
Sumber : i nyoman darma putra, Balipost
» Kategori Bali event | Isi komentar
Bali Harus Mengerem Investasi
Ditampilkan oleh Admin
2009 ini adalah tahun sulit. Namun tidak sesulit kalau dibandingkan krisis 1998. Itu artinya, bahwa tahun 2009 ini ekonomi harus tetap bertumbuh, walaupun pertumbuhannya tidak sebesar tahun sebelumnya. Selain itu, kita harus mempunyai keyakinan bahwa kesulitan ini akan dapat diatasi. Tentu harus dilakukan inovasi, baik dalam meningkatkan efisiensi maupun gebrakan dalam memenangkan persaingan khususnya di pasar nasional.
Namun diyakini, kesulitan ekonomi tahun ini pasti akan membawa dampak. Salah satunya akan terjadi pengurangan tenaga kerja termasuk ‘mundurnya’ beberapa perusahaan yang selama ini hanya bertumpu pada pasar ekspor. Sebab, di beberapa negara sudah mulai muncul kebijakan memproteksi produknya atau membatasi volume impor terhadap barang-barang yang mereka sudah mampu hasilkan.
Lalu bagaimana dengan Indonesia, khususnya Bali? Kesadaran akan dampak dari krisis ini telah mulai ada. Dengan adanya kesadaran tersebut, tentu para pelaku bisnis sudah memikirkan apa yang akan dilakukan untuk menghadapi serta mengatasinya.
Namun, kesadaran serupa juga harus dimiliki oleh kepala daerah. Mereka semestinya tidak terjebak dalam janji politik kepada segolongan masyarakat. Sebab, hal tersebut akan semakin menyulitkan masyarakat dalam menghadapi krisis. Paradigma akan mendatangkan investor sebanyak-banyaknya untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja mesti mulai diubah.
Sebab, para investor yang mampu menanamkan modal di saat krisis ini adalah mereka para investor luar. Selain modal, mereka juga sekaligus membawa tenaga kerja dari luar. Sehingga, akan terjadi penumpukan pengangguran angkatan kerja lokal.
Bila dikaitkan dengan kondisi daerah Bali, maka kehadiran investor luar bersama para tenaga kerjanya akan memperlebar kesenjangan pembangunan antardaerah di Bali yakni antardesa dengan kota dan antara wilayah selatan, dengan utara, timur maupun barat. Bila ini yang terjadi maka pembangunan daerah justru menimbulkan daerah enclave yang seharusnya dihindari, yakni daerah kota atau kawasan wisata yang berkembang pesat tetapi tidak mengharapkan input dari daerah sekitarnya, melainkan dari luar daerah Bali atau bahkan dari luar negeri.
Walaupun belum ada studi yang membuktikan ini, namun patut diduga bahwa hal ini sudah terjadi, mengingat koefisien efek ganda pariwisata Bali menurut laporan SCETO (pencipta BTDC) diharapkan sebesar 2,9 yang berarti setiap pengeluaran wisatawan di Bali sebesar 1 dolar akan menimbulkan dampak pendapatan langsung dan tidak langsung bagi masyarakat daerah Bali sebesar 2,9 persen. Namun kenyataan angkanya hanya mencapai 1,5, dan hal ini adalah karena terjadi banyak kebocoran (leakage) berupa kebutuhan input maupun modal yang didatangkan dari luar Bali atau luar negeri.
Untuk itu, pemerintah maupun para pengusaha di Bali mestinya mengambil beberapa kebijakan untuk penguatan yang telah ada. Sehingga, pelaku-pelaku ekonomi yang ada sekarang tetap bisa bertumbuh pada tahun krisis ini. Selain itu, tahun 2009 ini juga merupakan kesempatan bagi krama Bali untuk menata lagi sektor-sektor yang selama ini belum digarap secara maskimal. Selain itu, upaya untuk menata kembali lingkungan di Bali sangat penting dilakukan.
Sementara penguatan sumber daya manusia Bali juga merupakan hal utama yang mesti mendapat perhatian. Dari beberapa diskusi menyebutkan, bahwa SDM Bali telah kalah dibandingkan dengan luar daerah. Hal ini menyangkut etos kerja, keterampilan termasuk disiplin. Sehingga, sejumlah pengusaha mengurangi penggunaan tenaga kerja lokal karena banyak libur.
Kesadaran inilah yang perlu ditumbuhkan di kalangan pengusaha dan pejabat pemerintah di daerah. Bahwa ada satu masalah yang mendasar yang dihadapi Bali. Kalau masih berpikir mendatangkan investor sebanyak-banyaknya, tidak tertutup akan muncul kesenjangan yang lebih lebar dan kerusakan Bali yang semakin cepat.
Sumber : Balipost Online
» Kategori Berita Bali | Isi komentar
Gajah Mada Town Festival: Coba Membangkitkan Pesona Multikultur Kota
Ditampilkan oleh Admin
Kawasan Jalan Gajah Mada Denpasar kini dihidupkan dengan momentum Gajah Mada Town Festival yang berlangsung 28-30 Desember ini. Pembukaan festival berlangsung riuh dengan atraksi seni lintas etnis, culinary festival, dan parade jalanan, minggu kemarin.Sejumlah warga dengan keragaman etnis tampak pada kerumunan penonton. Nampak warga etnis Arab, China, dan India. Sebagian dari mereka adalah pedagang dan warga yang tinggal di kawasan ini. Jalan Gajah Mada tempo dulu terkenal sebagai pusat perdagangan dan gaya hidup di Bali.
Kini, Pemerintah Kota Denpasar menyatakan Gajah Mada adalah kawasan heritage dengan melakukan pembenahan pedestrian, taman, dan penataan toko.
“Kita rayakan interaksi budaya dan ekonomi yang terakhir dilakukan 50 tahun lalu di kawasan ini. Gajah Mada adalah pusat kota simbol warisan budaya dan multikultur, sebuah inspirational memories,” kata Walikota Denpasar IB Dharmawijaya Mantra.
Mantra mengharapkan kawasan Gajah Mada yang telah dipercantik ini kembali hidup dan menjadi ikon Kota Denpasar kembali. “Kawasan ini juga pusat keragaman dan humanity. Semoga bisa jadi alternatif wisata kota,” tambahnya.
Festival yang berlangsung tiga hari ini diisi dengan pertunjukan kesenian tradisional seperti Wayang Cenk Blonk dan sendratari, musik, pameran dagang, makanan tradisional Bali dan etnis lain seperti Roti Cane dari India.
Optimisme Mantra ditanggapi biasa saja oleh Candra, 55, seorang penonton yang juga berjualan sejak 50 tahun lalu di Jalan Gajah Mada.
“Gajah Mada sebagai pusat dagang adalah masa lalu. Toko kami sudah digantikan oleh supermarket yang banyak di Denpasar,” ujar Candra, pemilik Toko Dewang di ujung perempatan jalan Gajah Mada-Sumatera ini.
Ia sendiri mengaku terus bertahan dengan mengganti barang dagangan sesuai permintaan pasar. “Toko ini sudah diwariskan turun temurun. Jaman dulu kami menjual barang kelontong, namun kini sudah tak laku,” kata Candra yang kini berjualan parsel, dan sejumlah makanan kecil.
Candra masih mempertahankan bangunan tua di atas tokonya yang berfungsi sebagai tempat tinggal. Gaya art deco dengan jendela-jendela besar serta cat putih kusam masih terlihat di lantai II. Sayang, lantai I yang berfungsi sebagai toko, di bagian depannya telah direnovasi menjadi arsitektur Bali oleh Pemerintah Kota. Pilar-pilar bangunan telah ditambal dengan batu bata, sehingga terlihat tidak harmonis dengan bangunan tua di atasnya.
Sangat sedikit bangunan di Gajah Mada masih menunjukkan bentuk lamanya. Sayangnya, tak sedikit dari bangunan-bangunan itu dibiarkan begitu saja tanpa pemeliharaan.
“Tak hanya di Jalan Gadjahmada di dua kabupaten berbeda itu, tetapi juga di tempat tempat lain di pulau Bali. Bahkan, banyak diantaranya yang dipugar hingga sama sekali tak meninggalkan jejak wajah aslinya,” kata Sakti Soediro, seorang arsitek yang kini mendirikan komunitas Bali Tempoe Doeloe (BTD) bersama arsitek muda lainnya yang mengkampanyekan program Saving Bali’s Heritage.
Artikel : Luh De Suryani, www.balebengong.net
» Kategori Bali event, Berita Bali | Isi komentar
Sewa Sepeda Motor di Bali
Ditampilkan oleh Admin


Untuk Anda yang ingin budget transportasi lebih murah di Bali, menyewa sepeda motor adalah pilihan tepat.
Tidak hanya hemat dari sisi biaya, tapi juga lebih efektif dan praktis. Kita jadi lebih gampang kemana-mana, anti macet terutama di musim liburan seperti tahun baru, Lebaran dsb dan lebih bisa menjelajahi jalanan pedesaan.
Menyewa motor tentu lebih hemat dibandingkan sewa mobil. Kini Ekuta Rent Car menyediakan berbagai pilihan kendaraan sepeda motor yang bisa disewa untuk liburan. Motor yang tersedia diantaranya :
- Yamaha Mio : Harga sewa Rp. 50.000/hari
- Honda Vario : Harga sewa Rp. 50.000/hari
- Honda Supra X : Harga sewa Rp. 40.000/hari
Untuk penyewaan minimum adalah selama 2 hari. Pengantaran gratis bisa untuk wilayah Kuta, Seminyak atau Legian. Untuk wilayah di luar tersebut dikenakan biaya antar dan jemput masing-masing Rp. 15.000,-
Untuk booking dan pemesanan, bisa dilihat di sini
» Kategori Advertorial, Transportasi | 1 Comment





